Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2014

Sepasang Sandal

Seorang bapak, saat turun diri bis, sandal kirinya copot dan tertinggal dalam bis. Sayangnya, pintu bis yang otomatis itu, segera tertutup begitu bapak tersebut turun. Akhirnya, dengan sigap, sang bapak ini melepas sandal sebelah kanannya dan melemparkannya ke dalam bis melalui celah cendela yang terbuka. Tentu, dengan cara berhati-hati agar tidak mengenai penumpang lain. Bis yang sedang berjalan pelan itu pun semakin menjauh darinya.

Kemudian, ada seseorang yang terheran-heran melihat perilaku sang bapak. Lalu, ia bertanya, "Pak, mengapa bapak melempar sandal bapak yang tinggal sebelah itu?"

Sang bapak pun menjawab,"Sandal saya yang kiri tertinggal di bis. Jika pun saya tetap pakai yang sebelah kanan, tentu kurang bermanfaat, karena hanya sebelah. Saya akhirnya pasti akan mengganti dengan sandal baru. Makanya, saya lempar saja sandal sebelah kanan itu ke dalam bis, agar orang yang menemukannya bisa lebih memanfaatknnya, karena sandal di bis itu ada sepasang."

Demikianlah kecerdikan seseorang yang berhasil melatih dirinya untuk reflek membaca peluang kebaikan di balik peristiwa yang sama sekali tidak terprediksikan sebelumnya. Tentu saja, bapak tersebut bisa saja menuai kemaksiatan, jika bersikap menggerutu dan mengutuk peristiwa itu. Tapi, sang bapak tidak berbuat demikian dan memilih peluang yang lain yaitu peluang kebaikan.

Sikap seperti yang dilakukan oleh sang bapak ini, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang dibimbing Allah dalam mengarungi kehidupan. Semoga, kita menjadi golongan orang yang senantiasa mendapatkan bimbingan dan tuntunan-Nya. Sehingga, setiap peristiwa apapun, menyenangkan atau tidak menyenangkan, selalu menjadi lahan kebaikan untuk kita.


Sumber : Majalah Nurul Hayat Edisi 123 April 2014, hal.46

Senin, 07 April 2014

Hidup itu seperti SEPOTONG ROTI

Hidup itu seperti sepotong roti. Berawal dari bagian-bagian tak berarti jika hanya berdiri sendiri. Terigu, telur, mentega, gula, ragi dan lainnya. Tapi ketika itu semua disatukan dan diproses, menjadi kudapan bernilai tinggi.

Tantangan pertama yang dihadapi dalam kehidupan roti adalah perlakuan "kasar". Diaduk, diputar, diremas, dibanting, diuleni terus menerus. Anehnya, perlakuan ini ternyata tidak membuatnya menjadi rusak, tapi malah membuatnya tambah menyatu. Perlakuan kasar ini malah membuatnya menjadi lebih lembut dan kalis.

Setelah menyatu, adonan dibiarkan atau bahkan kadang ditutup dengan kain basah, sampai mengembang. Seperti itulah mereka yang berhasil melewati fase penyatuan, berkembang menjadi besar. Individu yang tetap sendiri, tak dapat penambahan nilai selain dirinya sendiri. Tak bisa kita pungkiri, ada sebagian diantara kita gagal berkembang, mungkin karena gagal berkembang, mungkin karena gagal dalam tahap penyatuan yang penuh tekanan itu.

Tantangan tak berhenti sampai disitu. Cobaan berikutnya dalam kehidupan roti adalah dipotong-potong sesuai bentuk yang diinginkan. Dicabik, dipotong, digiling lagi. Tapi hal ini pun tidak membuatnya rusak. Ternyata proses inilah yang menjadikan tiap individu roti mulai mendapatkan identitasnya. Apakah sebagai long john, roti kasur, kadet, donat atau yang lainnya.

Puncak tantangan pada roti adalah diproses berikutnya yaitu dipanggang atau digoreng. Tempaan dengan panas yang luar biasa ini membuat roti semakin matang dan berkembang. Warnanya pun berubah menjadi lebih menarik, tidak lagi pucat.

Hanya yang berhasil melalui semua proses ini, mulai dari diputar dan dibanting, didiamkan bahkan ditutup, dipotong, dicabik dan digilling. Lalu pada akhirnya ditempa dengan panas yang tinggi. Akan berkembang dengan sempurna dan matang, lalu kemudian dihias dengan cantik.

Maka jika sedang merasa diacak-acak hidup ini, diputar-putar kepala ini, campur aduk rasanya tidak karuan, dibanting berkali-kali, mungkin itu tandanya kita sedang berproses menjadi lebih lembut namun kuat.

Jika sedang merasa pengap, ditutup dengan kain basah, ditinggalkan begitu saja. Berbahagialah, itu tandanya kita sedang mengembangkan diri seperti adonan roti tadi.

Jika sedang merasa dipotong, dicabik dan digilas. Nikmati saja, karena itu artinya sedang diberi identitas, menjadi unik dibedakan dengan yang lain.

Dan jika ada tempaan panas dan tekanan yang luar biasa. Bersabarlah sedikit lagi, karena inilah proses pematangan dan pengembangan diri untuk menjadi sempurna. Hanya yang berhasil lolos dari ujian ini pada akhirnya dihias dengan cantik.


Sumber : Nurul Hayat, Edisi 122 Maret 2014, Hal.44

Kamis, 27 Februari 2014

Pesan Terakhir Alexander The Great

Setelah mengalahkan berbagai kerajaan, Alexander Agung pun kembali ke kerajaannya sendiri. Dalam perjalanan itu Alexander jatuh sakit. Dia pun menyadari bahwa kerajaannya, pasukannya, pedang yang tajam dan semua kekayaannya tidak bisa menolongnya. Karena sadar bahwa peluangnya untuk hidup tipis, ia memanggil jenderalnya dan menyampaikan pesan terakhir.
"Saya mungkin akan segera mati. Dan saya punya tiga permintaan. Laksanakan permintaan itu dengan sebaik-bainya:

Permintaanku pertama adalah, dokterku sendiri yang harus memikul peti jenasahku. Kedua, tebarkan emas, perak dan batu berharga koleksiku sepanjang jalan menuju kuburanku. Sedang permintaan yang ketiga adalah tolong kedua tanganku dibiarkan terentang keluar peti jenasah."
Semua yang hadir heran dengan permintaan yang aneh itu, tetapi tidak ada yang berani menanyakannya sedangkan sang jenderal kesayangan Alexander mencium tangannya lalu mendekapnya ke dada sambil berjanji.

"Baiklah Sang Raja, kami berjanji akan memenuhinya, tetapi katakanlah seperti itu?"

Setelah menarik napas dalam, Alexander Agung menjawab:
"Saya ingin dunia tahu tiga pelajaran yang saya dapatkan dalam kehidupan ini. Saya ingin doketr yang merawatku memikul jenasahku untuk memberi pesan kepada dunia bahwa tidak ada dokter mana pun yang bisa membantumu dalam situasi kritis seperti yang saya alami. Mereka tidak berdaya menyembuhkan aku. Karena itu kalian semua jangan menyia-nyiakan kehidupanmu.

Kemudian dengan menaburkan emas, perak dan batu berharga yang saya koleksi memberi pelajaran bahwa tidak sedikutpun emas atau kekayaan akan kita bawa mati. Makanya jangan membuang waktu dengan mengumpulkan kekayaan saja sedangkan akhirnya tidak sedikit pun yang engkau bawa ketika meninggalkan dunia ini.

Dan yang ketiga, dengan kedua tangan saya terentang keluar peti jenasah, memberi pengajaran kepada dunia bahwa aku datang ke dunia ini dengan tangan kosong dan aku meninggalkan dunia ini juga dengan tangan kosong."

Alexander Agung pun menghembuskan napas terakhir beberapa saat setelah menyampaikan kata-kata terakhirnya: " Bury my body, do not build any monument, keep mu hands outside so that the world knows the person who won the world had nothing in his hands when dying." (kubur tubuhku, jangan bangun monumen apapun untuk mengenangku), jaga tanganku tetap di luar sehingga dunia tahu bahwa seseorang yang telah memenangkan dunia tidak memiliki apapun di tangannnya ketiaka ia mati).

Kita tidak harus menunggu saat kritis seperti Alexander untuk menyadari hal-hal penting dalam kehidupan ini. Yaitu suatu saat ketika semua atribut dalam perjalanan karier dan kehidupan ini ditanggalkan.

Mari kita refleksikan diri melalui pertanyaan ini: SIAPAKAH SAYA, SETELAH SEMUA ATRIBUT DITANGGALKAN?



Sumber : Majalah Nurul Hayat Juni 2013

Rabu, 16 Oktober 2013

Good?Bad?Who knows?

Ada seorang raja yang begitu senang berburu. Suatu ketika, asaat berburu. Jarinya terluka. Tabibnya yang tua merawat jati itu. Raja. Karena gelisah, bertanya “Bagaimana tabib. Apakah jariku bakal baik atau buruk?” Tabibnya menjawab, “Good? Bad? Who Knows?”

Beberapa hari kemudian. Jari itu terinfeksi hingga jadi bengkak. Raja kembali menemui tabibnya dengan panik, “Apa yang terjadi? Apa lukaku akan baik-baik saja?” Tabibnya menjawab “Good? Bad? Who Knows?”. Jelas ucapan tabibnya tidak membuat raja terkesan sama sekali, namun ia hanya bisa memercayai tabibnya. Beberapa kemudian luka iitu sudah begitu parahnya hingga tabib harus memotong jarinya. Amputasi!

“Baik? Buruk? Aku tahu ini buruk!!!!” Raja murka dan menjebloskan tabibnya ke penjara karena tidak bisa menyelamatkan jarinya. Setelah menjebloskannya, raja berseru kepada tabib dalam penjara, “Nah, sekarang bagaimana perasaanmu, ha?” Tabib menukas, “Good? Bad? Who Knows?” Raja mendengus “Dasar tabib sinting!”

Setelah luka dijarinya sembuh, raja kembali berburu. Kali ini ia mengejar buruannya makin ke pelosok rimba, terpisah dari rombongannya, dan ia ditangkap oleh suku penghuni rimba. Mereka menangkapnya untuk dikorbankan kepada dewa-dewa mereka. Bukan kepalang takutnya raja kita ini. Akan tetapi, ketika raja nyaris dikorbankan, mereka melihat jari tangannya kurang satu! Suku rimba berkata, “Kami tidak bisa mengorbankan kamu. Kamu tidak sempurna untuk jadi korban” Jadi mereka melepaskannya.

Ketika raja berhasil pulang ke kerajaanya, ia berfikir, WOW! Betapa beruntungnya aku! Jika seluruh jariku lengkap, ak pasti sudah mati”! lalu ia menemui tabib di penjara dan berkata “menakjubkan! Memang ak kehilangan jariku, tapi siapa tahu apakah ini baik atau buruk? Dan ini baik bagiku! Terima kasih banyak! Aku membebaskanmu dari penjara!”

Raja melanjutkan “Aku menyesal telah berbuat buruk memenjarakan kamu.” Tabib itu menyeletuk, “Apa maksud paduka memenjara hamba adalah buruk? Justru hamba bagus masuk penjara! Karena jika hamba tidak dipenjara, hamba pasti akan bersama paduka saat berburu! Suku rimba akan menangkap hamba, dan karena jemari hamba lengkap, hambalah yang akan dikorbankan !”

Makna kisah ini adalah ……. Baik atau buruk, siapa sih yang tau? Jika suami/ istri anda meninggalkan anda karena perempuan/laki-laki lain…. “Good? Bad? Who Knows?” ini sungguh benar. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Anda akan kehilangan rumah anda, anak dan istri anda “Good? Bad? Who Knows?”

Hal yang menakjubkan mengenai hidup adalah hidup ini begitu tidak pasti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Namun terhadap semua hal yang terjadi dalam hidup, kita bisa memiliki hubungan yang baik terhadapnya, ramah, menerimanya. Kita tidak menyalahkan kehidupan, marah atau sedih pada hidup sebab…….“Good? Bad? Who Knows?”

Ketika pacar saya mencampakkan saya. Rasanya sangat sakit dan menderita. Namun kini saya berkata. “Terima kasih banyak. Karena jika kamu tidak mencampakkanku, aku sudah menikah denganmu kini, punya anak, lalu cerai, dengan banyak hutang dan tagihan. Menjadi gila seperti orang lain. Jadi terima kasih sudah mencampakkanku. TERIMA KASIH BANYAK!”

Kita tidak boleh begitu marah dan kritis terhadap hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Ini adalah falsafah indah mengenai kehidupan, yang berarti kita tidak menjadi negatif sama sekali terhadap hidup, namun…….“Good? Bad? Who Knows?” 

Sumber :Si Cacing dan Kotoran Kesayangnnya & Cerita Pribadi Blogger

Kamis, 05 September 2013

SENYUM DUA JARI

Pujian dapat menhemat uang kita, mempererat hubungan dan menciptakan kebahagiaan. Kita perlu lebih sering menaburnya ke sekitar kita.

Orang yang paling sulit untuk kita puja adalah diri kita sendiri. Saya dibesarkan untuk percaya bahwa memuji diri sendiri akan membuat kita menjadi besar kepala. Bukan begitu. Yang benar adalah menjadi besar hati. Memuji kualitas baik dari diri kita sendiri berarti membebaskan hari dengan cara yang positif.
Saat saya masih seorang mahasiswa, guru pertama saya memberikan sebuah nasihat untuk di praktikkan. Awalnya beliau menanyakan apa yang pertama-tama saya lakukan begitu bangun tidur.

“Pergi ke kamar mandi,” kata saya

“Apa ada sebuah cermin di kamar mandimu/” Tanya beliau

“Tentu.”

“Bagus.” Katanya. “Nah, setiap pagi, bahkan sebelum kamu menggosok gigi, saya ingin kamu menatap cermin dan tersenyum kepada dirimu sendiri.”

“Pak!” saya mulai protes. “Saya ini mahasiswa. Kadang-kadang saya tidur sangat larut, dan bangun dengan perasaan kurang enak. Pada pagi-pagi tertenru, bahkan saya ngeri melihat wajah sendiri di cermin, boro-boro tersenyum.”

Beliau terkekeh, menatap mata saya dan berkata, “Jika kamu tidak bisa tersenyum secara alami, kamu dapat memakai dua jarimu, taruh di kedua sidit mulut, dan tekanlah ke atas. Seperti ini “beliau menunjukkan caranya.

Beliau jadi terlihat menggelikan. Saya terkekeh-kekeh melihatnya. Beliau menyuruh saya untuk mencobanya, dan saya menurutinya.

Pada pagi berikutnya, saya menarik turun diri saya dari tempat tidur, melangkah terhuyung-huyung ke kamar mandi. Saya menatap diri saya di cermin. “Arrggghhh!” itu bukan pemandangan yang manis. Sebuah senyum alami tidak bisa muncul. Jadi saya meletakkan dua jari telunjuk di kedua sudut mulut dan menekannya ke atas. Lantas saya melihat seorang mahasiswa muda bodoh menampilkan wajah tolonya di cermin, dan saya tak tahan untuk tak tersenyum. Begitu muncul sebuah senyum alami, saya melihat mahasiswa di cermin tersenyum kepada saya. Saya pun tersenyum lebih lebar lagi, dan orang yang dicermin pun membalas dengan senyum yang lebih lebar juga. Dalam beberapa detik, kami mengakhirinya dengan tertawa bersama-sama.

Saya terus mempraktikkan nasihat itu setiap pagi selama 2 tahun. Setiap pagi, takk peduli bagaimana perasaan saya saat bangun, saya segera tertawa begitu melihat diri saya dicermin, biasanya sih dengan bantuan dua jari. Sekarang orang bilang saya banyak senyum. Barang kali itu karena otot-otot di sekitar mulut saya menjadi menetap dalam posisi seperti itu.

Kita dapat mencoba trik dua jari itu kapan saja, terutama bermanfaat ketika kita merasa sakit, bosan atau tertekan. Tertawa telah terbukti bisa melepaskan hormone endofrin ke dalam aliran darah kita, yang dapat memperkuat system kekebalan tubuh kita dan membuat kita merasas bahagia.


Hal itu akan membantu kita melihat 998 batu bagus di dalam tembok kita, bukan hanya dua bata jelek. Dan tertawa membuat kita terlihat rupawan.


Sumber : Menciptakan Kebahagia, Ajahn Brahm.

Rabu, 04 September 2013

Mencari yang Sempurna

Seorang pemuda yang hidup di Perth telah sampai usia saai ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari-cari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahi. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan gadis yang sangat cantik-jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up dan kosmetik!

Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak bisa menikahinya. Sebab…gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis itu tak cukup sempurna baginya.

Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa lezat – lebih baik dari yang bisa anda dapatkan di restoran terbaik, bahkan lebih baik dari yang bisa anda dapatkan dari restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri!

Namun pemuda ini tak bisa menikahinya pula. Sebab……kekurangan gadis itu adalah……………..dia bodoh. Dia tidak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu Cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis itu tak cukup sempurna baginya.

Maka ia mencari selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga akhirnya menemukan gadis satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri : ala Thi, ala Jepang , dan ala Itali. Dan ia begitu cerdas. Ia punya dua gelar doctor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu welas asih. Ia sempurna!

Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya. Sebab…….gadis ini mencari pria yang sempurna.

Semakin kita mengejar kesempurnaan, kesempurnaan itu akan menjauh dari kita. Karena segala sesuatu di alam ini tak ada yang sempurna kecuali Sang Pencipta!


Sumber : Pukat Kelekatan, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Ajahn Brahm.

Minggu, 01 September 2013

Yang terbesar di Dunia! Hmmm…. Apa ya????

Putri dari seorang teman lama saya dari masa kuliah tengah menjalani tahun pertamanya di bangku SD. Gurunya bertanya kepada kelas yang berisi anak-anak berumur lima tahunan itu, “Apa yang paling besar di dunia?”

“Ayah saya” kata seorangadis kecil.

“Gajah”, kata seorang bocah yang baru-baru ini mengunjungi kebun binatang.

“Gunung” jawab yang lainnya.

Anak teman saya berkata, “Mata saya adalah hal yang paling besar di dunia.

Seluruh kelas hening sesaat, mereka mencoba memahami jawaban si gadis kecil, “Apa maksudmu?” Tanya sang guru, sama-sama dibuat bingung.

“Ya….,” si filsuf cilik mulai menerangkan, “mata saya bisa melihat ayah dan dapat melihat gajah. Mata saya pun dapat melihat gunung serta banyak hal  lainnya. Karena semua itu dapat masuk ke dalam mata saya, mata saya pastilah sesuatu yang paling besar di dunia!”

Kebijaksanaan bukanlah pembelajaran, tetapi melihat dengan jernih apa yang tidak dapat diajarkan.

Sebenarnya pikiran dia lah yang merupakan hal terbesar di dunia. Pikiran kita dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, dan juga dapat melihat melampaui apa yang tampak dengan melalui imajinasi. Pikiran juga dapat mengetahui adanya suara, yang mana mata tidak dapat melihatnya, dan menyadari sentuhan, baik yang nyata maupun yang ciptaan impian. Pikiran kita pun dapat mengetahui apa yang berada diluar jangkauan pancaindra kita. Karena segala sesuatu yang dapat kita ketahui dapat masuk ke dalam pikiran kita, maka pikiran kita pastilah merupakan hal terbesar di dunia. PIKIRAN MEMUAT SEGALANYA


Sumber : Pikiran dan Realita

Sabtu, 31 Agustus 2013

Hmmmmm.......Ayam atau Bebek Ya ????

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhanm Kuek!Kuek!

“Dengar,” kata si istri, “Itu pasti suara ayam”.

“Bukan, bukan itu. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuukkk’, bebek itu ‘kuek! Kuek!.
Itu bebek, saying.’ Kata si sami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek! Kuek! Terdengar lagi

“Nah, tuh! Itu suara bebek”, kata si suami.

“Bukan, sayang……Itu ayam! Aku yakin betul! Tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a..da…lah…be……bek, B-E-B-E-K. Bebek!Tahu?!” si suami berkata dengan gusar.

“Tetapi itu ayam”! masih saja si istri bersikeras.

‘Itu jelas-jelas bue……bek! Kamu ini……Kamu ini….!

Terdengar lagi suara “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannnya.

Si istri sudah hampir menangis, “Tetapi itu Ayam….”

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, teringan kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar, itu memang suara ayam kok.

“Terima kasih, Sayang”. Kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“kuek!Kuek! terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar bahwa : siapa sih yang peduli ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak, bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah??


Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetic sehingga bersuara seperti bebek? hahaha bisa aja neh.

Sumber : Cinta dan Komitmen

MAKNA CINTA SEJATI

Masalah dalam percintaan dimulai saat buyarnya fantasi, kekecewaan bisa sangat menyakiti kita. Pada cinta asmara, kita tidak benar-benar mencintai pasangan kita, kita hanya mencintai cara mereka yang membuat kita tersentuh. Yang kita cintai adalah “sengatan” yang kita rasakan dalam kehadiran mereka. Itulah sebabnya, ketika mereka tak ada, kita merindukannya dan meminta dikirimi sebotol……! Seperti sengatan lainnya, tak berapa lama pun akan berlalu.

Cinta sejati adalah cinta yang tak mementingkan diri sendiri. Kita hanya peduli kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, “pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apapun yang kamu mau, lakukan!” dan kita bersungguh-sungguh dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia. Cinta sejati itu langka.

Banyak dari kita suka berpikir bahwa hubungan istimewa kita adalah cinta sejati, bukan cinta asmara.berikut ini adalah sebuah tes untuk menilai cinta anda termasuk jenis yang mana.

Pikirkanlah pasangan anda. Bayangkan wajahnya di benak anda. Kenanglah hari anda bertemu dengannya dan saat-saat indah bersamanya. Sekarang bayangkan anda menerima sepucuk surat dari pasangan anda. Surat itu memberitahu anda bahwa si dia telah jatuh hati kepada sahabat anda, dan mereka telah pergi untuk hidup bersama.bagaimana perasaan anda????

Jika cinta anda cinta sejati, anda akan begitu bergetar bahwa pasangan anda telah menemukan orang yang lebih baik dari diri anda, dan dia bahkan sekarang lebih bahagia. Anda akan merasa gembira karena pasangan anda dan sahabat anda dapat berbagi hidup bersama-sama. Anda akan sangat gembira karena mereka saling mencintai. Bukankah kebahagiaan pasangan anda adalah hal yang terpenting dalam cinta sejati anda???

CINTA SEJATI ITU LANGKA.

Seorang ratu tengah melihat keluar jendela istananya ke arah seseorang yang sedang berjalan untuk menerima dana makanan di kota. Raja melihatnya dan menjadi cemburu terhadap kesetiaan sang ratu kepada sang petapa agung. Dia memarahi sang ratu dan menuntutnya untuk mengatakan siapa yang lebih dicintai sang ratu, laki2 tersebut atau suaminya. Sang ratu adalah orang yang bijaksana dan setia, tetapi pada saat itu anda harus sangat hati-hati jika suami anda adalah seorang raja.hilang kepala, berarti hilang kepala betulan. Sang ratu ingin menjaga kepalanya tetap utuh, maka dia menjawab dengan kejujuran yang tak terbantahkan, “SAYA MENCINTAI DIRI SAYA SENDIRI LEBIH DARI KALIAN SEMUA”.

SUMBER : CINTA DAN KOMITMEN


Apa Sakit Itu Salah???

Jatuh sakit itu lumrah. Pada kenyataanya aneh jika kita tidak pernah jatuh sakit dalam hidup kita. Jadi, mengapa. Tanya diri kita, saat ke dokter, kita bilang “ada sesuatu yang  tidak beres dengan diri saya dok??? Padahal, akan ada yang  tidak beres jika kita tidak pernah sakit sama sekali. Jadi, orang yang waras seharusnya bilang, “saya beres – beres saja, dok, saya sakit lagi nih!”

Kapanpun kita menganggap penyakit sebagai sesuatu yang salah, kita akan menambah ketegangan yang sebenarnya tidak perlu terjadi, bahkan juga rasa bersalah, ke puncak kesengsaraan.

Berapa banyak dari kita yang menjadi merasa bersalah manakala kita sakit??

Seorang biksu  telah menderita suatupenyakit yang  tak dikenal selama beberapa tahun. Dia menghabiskan hari demi harinya, minggu demi minggu, berbaring diranjang sepanjang hari, terlalu lemah bahkhan hanya untuk berjalan keluar kamar. Pihak wihara itu telah membiayai berbagai jenis pengobatan, baik medis maupun alternatif, dalam upaya penyembuhannya, tetapi tampaknya tak ada yang berhasil. Ketika dia merasa sedikit membaik, dia berjalan terhuyung-huyung beberapa langkah, lalu tumbang lagi berminggu-minggu. Para sahabat sering berfikir bahwa dia akan segera meninggal.

Suatu hari, kepala wihara yang bijaksana mendapatkan ilham mengenai masalah ini. Jadi, dia pergi ke kamar biksu yang sakit itu. Biksu yang terbaring itu menatap kepala wihara dengan tatapan yang pasrah.
“Saya datang kesini”, kata kepala wihara. ‘atas nama seluruh biarawan dan biarawati di wihara ini, juga seluruh umat penyantun kita. Atas nama seluruh orang yang peduli dan menyayangimu, saya datang untuk memberimu izin untuk mati. Kamu tidak harus sembuh.

Mendengar kata – kata itu, si biksu sakit terisak. Dia telah berupaya keras untuk sembuh. Teman-temanya telah banyak membantu demi kesembuhanya, sehingga dia tidak mau mengecewakan mereka. Dia merasa begitu gagal, begitu bersalah, karena tak kunjung sembuh. Saat mendengar kata-kata kepala wihara, seketika dia merasa terbebas untuk menjadi orang sakit, bahkan bebas untuk mati. Dia tak perlu lagi berjuang demikian keras untuk menyenangkan teman-temanya. Kelegaan itu membuatnya menangis.
Menurut anda, apa yang akan terjadi???? Semenjak hari itu, kesehatannya membaik.

Sambutlah rasa sakit dan izinkannya untuk datang, karena dengan itu, rasa sakit itu akan pergi.


Sumber : Ajan Brahm, Spirituality and Health Magazine,USA.

Sabtu, 28 April 2012

Thanks to SomeOne


Thanks" to those who LIE to me - you only make me see the truth and the truth about what kind of person that you are!

"Thanks" to those who HATE me - you are only making me a stronger person!

"Thanks" to those who GOSSIP about me - you are only making me the centre of your world!

"Thanks" to those who LEFT me - you only make me stronger and think twice about making the same mistake again!

"Thanks" to those who ENVY me - you are only making my self esteem grow!

"Thanks" to those who WORRY about me - you only make me realise someone cares!

"Thanks" to those who STAY - you make me realise who my true friends really are!

"Thanks" to those who CARE about me - you only make me feel special!

Last "Thanks....."

"Thanks" to those who LOVE me - you only make me love more! ♥♥♥

Jumat, 27 April 2012

"Learn, Live and Hope"


Learn from yesterday Take all your past mistakes, and failures and use them for motivation in order to gain an advantage to succeed on your new ventures. Don't let the fear of committing another mistake or failing again stop you from trying new adventures and new opportunities. 

Live for today Never live for the past, live in the moment and seize the sensible opportunities presented to you. Be willing to take risks, as risk are one of the most important keys to living for today, and never let anyone, including yourself stop you from achieving what you know you can. 

Hope for tomorrow Make plans, set goals, and follow your dreams. Too many of us limit our hopes and ourselves by not dreaming big enough, or hoping big enough. Dream as big as you can dream, and work as hard as you can work in order to achieve your maximum potential