Jumat, 27 April 2012

Dalam Bayang – Bayang Bahaya Limbah Infus

Botol bekas infus yang tidak tertangani secara benar dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk mainan anak – anak, salah satunya bola – bola pada permainan mandi bola. Namun ternyata botol infuse tersebut mampu menularkan penyakit, terutama kepada pekerja pembuat mainan anak – anak.

Sampah bukan menjadi hal baru dalam kehidupan manusia. Tidak ada sampah bisa diartikan tidak ada kehiupan dan itu berarti tidak ada kehidupan. Sampah ialah barang – barang sisa dari suatu proses yang tidak dapat digunakan kembali dan tidak sedikit yang berbahaya bagi manusia.

Salah satu jenis sampah yang sering ditemukan adalah sampah rumah sakit. Sampah yang berasal dari proses pengobatan dan sisa – sisa penderita penyakit. Tentu saja sampah ini berbahaya , namun ternyata sampah rumah sakit ini digunakan sebagai bahan untuk mainan anak – anak, misalkan bola plastik pada permainan mandi bola.
  • Limbah rumah sakit
Semua sisa hasil proses kegiatan dirumah sakit serta kegiatan penunjangnya dikenal sebagai limbah rumah sakit. Limbah rumah sakit dapat dibedakan menjadi limbah klinis dan non klinis baik yang berbentuk padat maupun cair.

Peralatan medis yang dapat memotong ataupun menusuk kulit, seperti misalnya jarum suntik atau pisau bedah yang telah digunakan dapat digolongkan sebagai limbah infeksius. Limbah infeksius adalah limbah yang berkaitan  dengan pasien yang mendapat perawatan intensif sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran penyakit. Karena limbah tersebut terkontaminasi  oleh dara, cairan tubuh, mikrobiologi, bahan beracun atau radioaktif. Limbah lain yang tergolong limbah infeksius ialah limbah yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang isolasi penyakit, bagian tubuh yang terinfeksi kuman serta botol – botol infus.

Limbah infeksius ini cenderung berbahaya jika pengelolaanya tidak benar. Limbah ini dapat menjadi sumber penularan penyakit ke manusia.  Pemerintah telah mengatur bahwa sampah medis harus dipisahkan dengan sampah – sampah  non medis. Pembedaan sampah medis dengan non medis dapat dilakukan dengan mengemas menggunakan kantong plastik yang berbeda warna.


  • Bahaya Botol Infuse
Infuse ialah salah satu limbah medis yang tergolong limbah anorganik. Bahan dasar infus yang berupa plastic golongan low density polyethylene (LDPE), menjadikan limbah infus di daur ulang untuk dijadikan barang – barang baru, misalnya mainan anak – anak. Salah satu mainan anak – anak yang berbahan dari plastic limbah infus adalah bolah plastik pada permainan mandi bola.

Botol bekas infuse masih berisi cairan nutrisi dapat menjadi sumber penyakit dan menularkan pada individu lain. Infus dapat terkontaminasi penyakit yang ditularkan melalui produk darah sehingga ia ( infuse) dapat menjadi sumber penyakit. Infuse telah menjadi jalur dari naiknya kuman penyebab penyakit meski aliran infuse mengikuti pola gravitasi bumi, dan itu yang dikhawatirkan.

Pemerintah telah mengatur cara penanganan limbah medis sehingga limbah tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi manusia. Peraturan pemerintah no.85 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya ialah salah satu bentuk usaha pemerintah untuk menangani masalah limbah rumah sakit yang berbahaya.

Pemusnahan limbah rumah sakit dapat dilakukan dengan cara dibakar atau ditanam. Sedangkan limbah infeksius yang berupa cairan seharusnya dibakar  dengan menggunakan incinerator, yaitu dengan menggunakan suhu 1.200 0C yang dilengkapi dengan penghisap gas untuk menghisap gas beracunya.

Pada pembuatan mainan anak – anak yang menggunakan bahan botol bekas infuse diperlukan penanganan yang benar agar limbah tersebut tidak menyebarkan penyakit.  Ada cara tersendiri  untuk memproses botol – botol infuse, jika memang ingin digunakan kembali, yaitu melalui proses dekontaminasi.  Namun sayangnya pada pembuatan mainan berbahan botol beks infuse tidak ada prses pembersihan yang istimewa.

Proses pembuatan mainan meski menggunakan alat mesin tetap saja ada pekerja yang mengoperasikannya. Namun pekerja tersebut tidak menggunakan alat khusus untuk melindungi dirinya dari bahaya limbah tersebut, misal penggunaan sarung tangan atau masker. Sehingga para pekerja trsebut dapat mudah tertular penyakit, terutama ketika daya tahan tubuh pekerja tersebut lemah.

  • Penyakit dari rumah sakit
Botol infuse bekas mudah diperoleh itu menjadi salah satu permasalahan penanganan limbah klinis yang cenderung dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Mudahnya terjadi pencampuran jenis limbah, antara medis dan non medis, sehingga sampailah di TPA, dan itu menjadi bentuk kurangnya pengawasan pemerintah terhadap masalah limbah klinis.

Pencampuran limbah tersebut sering ditemukan di TPA, seperti jarum suntik, botol infuse dll. Bagi pemulung plastik limbah medis dapat di daur ulang, sehingga mereka mengumpulkan limbah tersebut, kemudian menyerahkan ke pengepul untuk di daur ulang kembali.

Secara teoritis plastik dari jarum suntik bekas dan botol infuse mempunyai kadar plastik yang baik dan mempunyai nilai yang tinggi jika di daur ulang (recycle). Hal itu juga diungkapkan oleh salah seorang pengepul “Botol bekas infuse memiliki kelas plastik yang bagus, lebih lentur”, ungkapnya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mencari penghasilan tanpa memperhatikan bahwa pemanfaatan jarum suntik bekas dan botol infuse bekas bisa menularkan penyakit. Pengelolaan sampah medis yang ideal seharusnya tersentral di satu lokasi yang jauh dari kawasan padat penduduk agar memudahkan pengawasan, prosedur standar operasional lebih mudah diterapkan. Harapnya rumah sakit tidak lagi menjadi penyebar penyakit . :D 
GO GREEN!!!!.............